Minggu, 27 Oktober 2019

Surat Untuk Kamu yang Berulang Tahun

Oktober 27, 2019 0

Tubuh adalah kumpulan serpihan hari demi hari. Menyatu menjadi mata, lengan, telinga, dan impian-impian yang akhirnya mengutuhkan dirimu. Satu per satu jalan telah kamu tempuh. Satu per satu rintangan kamu hadapi. Suatu kali kamu barangkali pernah gagal, tetapi tetap bertahan dan kembali lagi berjalan. Jika hidup adalah peperangan. Kamu adalah pemenang yang tidak mudah dikalahkan.

Hari ini di tahun yang sudah beranjak maju. Kamu diingatkan oleh hari ketika Ibumu pernah melahirkanmu. Percayalah, salah satu alasan Tuhan mengirimmu ke bumi adalah untuk menerima cinta dan kasih dari orang-orang sekelilingmu. Sebab itu, aku ingin kamu bahagia di hari ulang tahunmu ini. Sebab kamu sudah berhasil melalui jalan, rintangan, serta peperangan hingga kamu menjadi pemenang.

Hidup adalah perkara mengumpulkan kisah demi kisah. Lalu, di rajut menjadi bagian yang disebut kenangan. Denganmu telah ku lalui semua, bertumbuh, berproses menuju dewasa, dengan segala hal yang sudah diperjuangkan. Maka, seperti orang-orang, berdoalah di hari lahirmu. Doakan agar aku dan kamu bisa mewujudkan impian masing-masing. Kamu dengan impianmu, aku dengan impianku. Ku senang melihatmu yang terus tumbuh menjadi lebih baik. Selamat mengingat hari lahir. 

Sabtu, 21 September 2019

Satu setengah tahun yang berbeda

September 21, 2019 0
Terlepas dari jarak yang memisahkan kita saat ini. Dan, biarkan saja semuanya berjalan seperti air yang mengalir, cepat atau lambat, kita akan sampai pada muara. Muara adalah perpisahan. Mungkin kita akan dipisahkan dari kesendirian, menjadi beraama--bersatu. Tentu saja aku ingin kita bersama.

Aku menyukai rambut matamu yang lebat. Sama seperti rambut mataku. Juga hidungmu yang agak mancung. Meski tak sana dengan hidungku yang lebih pesek. Hehe.

Rasanya begitu perih, apalagi sebelum menemukanmu. Percaya atau tidak, kamu adalah laki-laki yang membuat aku merasa lebih baik. Denganmu saat ini, perasaabku bukan lagi perasaan anak SMA. Kita sudah cukup umur untuk memahami mana yang baik dan mana yang main-main. Jika harus bermain, kenapa harus denganmu? Tak mungkin. Lagi pula, ada yang membuat kita merasa berbeda. Entahlah, yang pasti, aku percaya cinta itu maha hebat, ia bisa menjatuhkan hati siapa pun yang ia mau.

Aku senang, jika kamu senang. Begitulah cinta bersarang di dadaku. Membuatmu tersenyum, mendengar suara bahagiamu, mengingatkan bahwa kita punya impian yang sama, dan kelak kita akan berteny pada suatu masa, ketika Tuhan telah menyiapkan segalanya.

Aku tak ingin memintamu banyak hal. Aku hanya ingin kamu menjadikan dirimu laki-laki yang pantas untuk aku perjuangkan daru jauh. Karena, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan memantaskan diri untuk menemuimu kelak. Dan, aku percaya, kamu adalah orang yang dapat menyembuhkan luka-luka.

Kamis, 01 Agustus 2019

Catatan tentang kamu

Agustus 01, 2019 0

“kamu yang nantinya jadi masa depanku, maukah menerima dan memaafkan masa laluku? Seburuk apapun itu?”
Ini bukan sebuah pengakuan dosa atau penyesalan. Aku menulis ini sebagai upaya mengais ketulusanmu agar kelak tak perlu ada kekecewaan. Sadar dengan segala kekurangan, aku terlalu khawatir jika kamu menyimpan masa laluku sebagai beban di pikiran. Padahal harapan kutak jauh berbeda dengan kutipan di atas, aku ingin masa depanlah yang bertahta disana dan perihal masa lalu cukup kau biarkan tuntas.
“kamu yang ku minta pada Tuhan menjadi masa depanku”
Sampai hari ini aku masih berusaha tidak berhenti percaya bahwa kelak padamu hatiku kan berlabuh. Kelak kita bisa berbaring tanpa mengatakan apa-apa tapi tetap merasa dipahami sebagai manusia. Denganmu, kelak cinta tidak hanya saling mencintai sebagai dua orang dewasa tapi seperti sepasang sahabat lama.

Kamu tidak hanya istimewa. Tidak hanya berhasil membuatku jatuh cinta. Kamu menawarkan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan bisa diberikan dunia. Rasa nyaman yang merasuk ke hati setiap kita bersama jadi buktinya.

Kamis, 13 Juni 2019

Merayakan kehilangan

Juni 13, 2019 0
Terima kasih karena sudah pernah ada. Terima kasih untuk tetap tinggal disaat orang-orang lain memilih pergi. Urusan bagaimana hubungan ini nantinya akan berjalan-tanpamu-, kau tidak usah khawatir. Pun sebelum denganmu, aku sudah terbiasa sendiri. Setelah sekian lama kau sembunyikan aku selayaknya aku bukan siapa-siapa. Di telingaku, kau mengatakan aku yang yang utama. Kepada mereka, kau bilang kita-yang sedang diusahakan-ini segalanya. Lalu, mana yang harus aku percaya?
Aku tahu, kamu -masih-mencintai orang lain; iya, dia. Cinta masa sekolahmu. Pun yang juga dulu menggantikan posisiku kala itu. Aku sadar, mengabaikanmu adalah hal sulit yang aku lakukan. Dan itu adalah dua hal bodoh yang masih saja ku lakukan hingga sekarang. Atau mungkin, sudah saatnya aku berhenti melakukan hal bodoh yang sia-sia. Iya, harus!
Tidak. Aku tidak masalah jika kau memilihnya. Hanya saja, mengetahui kita pernah hampir bersama dan kamu pernah hampir memilihku, itu sungguh menyebalkan. Seakan kita berdua bertemu memang untuk dipisahkan. Kali ini benar-benar akan terpisahkan.
Aku tidak mengerti, mana yang lebih kau cari. Apakah aku yang ada di setiap kau pinta, ataukah dia yang di setiap rengeknya kau selalu ada? Tidak. Kau tidak perlu menjelaskan. Aku pun sudah tidak membutuhkan jawaban.
Aku, tidak masalah kau pergi. Yang lain juga begitu. Hanya saja, jika memang dari awal tak berniat untuk tinggal lama, mengapa membuatku merasa bahwa kau -pernah-mencintaiku juga?
Pergilah, tak apa. Tak usah enggan hanya karena takut menyakitiku, sudahlah. Tak usah berpikir seperti itu. Aku, akan tetap baik-baik saja, dengan atau tidak tanpamu. Toh hidup juga akan tetap berjalan meski tidak ada kamu di hidupku. Jangan justru seperti ini, menyiksaku perlahan-lahan. Membuatku berharap tentang apa yang sebenarnya tidak ada.


salam bahagia.

Jumat, 24 Mei 2019

Senja sore ini

Mei 24, 2019 0

Aku baru saja selesai bersih-bersih diri, karena masih merasa amat gerah, aku berjalan ke balkon kosanku. Ternyata matahari sedang cantik-cantiknya sore ini, cahayanya silau keorenan, mulai bersembunyi di ujung barat sana. Iseng, ku foto, ku upload sebagai status di aplikasi chat. Kemudian aku masukan lagi ponselku ke kantong, duduk menikmati angin sore ditemani senja bulan Mei. Muda-mudi berlalu lalang mencari santapan untuk berbuka puasa. Hari ini adalah puasa ke, puasa ke berapa ya? Hihi.

Berbicara tentang senja, tak lengkap rasanya kalau belum memutar lagu “Monita Thalea – Memulai Kembali”, lagu ini mengingatkanku pada banyak orang. Salah satunya, saat aku baru saja beranjak dari status anak SMA menjadi anak kuliah. Haha, lucu sekali, aku menyukai seseorang tiga tahun lamanya. Hingga orang yang aku sukai juga berada di kota yang sama denganku. Sama-sama menempuh pendidikan disini. Satu semester berlalu, aku masih saja menyukainya. Entahlah, di mataku, laki-laki yang tampaknya sederhana mempunyai nilai lebih. Sesederhana tutur katanya, penampilannya, sikapnya, tingkah lakunya, aku suka. Sangat suka. Hingga suatu hari di bulan Februari, kami anak-anak alumni SMA yang di kota ini merencanakan untuk main bareng dan berujung camping di pantai. Awalnya aku hanya asal ikut, sampai motor bebek yang sangat aku kenali makin mendekat kearah tempat kami berkumpul dan tepat berhenti di depanku. Kalau saja saat itu ada yang bisa mendengar suara detak jantungku, mungkin aku sudah sangat malu karena detaknya menjadi tak normal. Diantara banyak anak yang berkumpul saat itu, hanya ada satu orang selain kami yang tahu bahwa aku suka dengannya. Dan dialah yang menyuruh doi untuk memboncengkanku, meski malu-malu, dalam hati aku sangat berterima kasih pada perempuan comel satu ini. Hari itu kami merencanakan untuk berkunjung ke salah satu wisata favorit di Magelang. Ya, aku ini tipe orang yang ketika sudah menyukai seseorang, kepada orang lain yang datang aku menutup segalanya. Banyak sekali kejutan-kejutan kecil hari itu, kami berboncengan, kami mengobrol sepanjang perjalanan, sampai dia mengomel karena aku enggan bersembunyi dibalik jas hujan kelelawarnya, banyak sekali, hingga rasanya aku mulai serakah pada waktu untuk memintanya berhenti sejenak. Tak hanya pada perempuan comel itu. Aku juga berterima kasih pada Tuhan, mungkin inilah hadiah-Nya untukku dari tiga tahun sabar menunggu. Mulai sejak saat itulah, aku percaya, bahwa segala sesuatu yang ditunggu dengan sabar, akan menuai hasil yang sepadan.

Seharian ini aku hanya berdiam diri di kosan, tak masuk kantor, tak mengaktifkan ponsel. Hanya bergulang-guling menonton drama Korea, membaca novelnya Fiersa Besari yang belum aku tamatkan. Tahu-tahu sudah sore, hingga aku duduk di balkon saat ini. Waktu berbuka tinggal hitungan menit. Tapi aku belum turun mengajak mbak kos membeli santapan untuk berbuka. Pikirku, nanti sajalah sekalian pulang ngajar Cindy.

Sebelumnya aku juga pernah mengupload foto senja di aplikasi chat, beberapa menit setelah upload. Seorang teman yang kutemui di kegiatan tahunan kampus membalasnya dengan sebuah foto dengan tanda cinta dan caption “ciyeee”, yang ku lihat difoto itu adalah statusku sama dengan seseorang. Tapi lucunya adalah, statusku itu aku sembunyikan darinya. Ah si Mae ini memang hm sekali.

Setelah aku simpulkan baik-baik, tipe laki-laki yang ku sukai ini rata-rata sama; sederhana, susah ditebak, dan penuh kejutan.

Teruntuk kamu yang sedang membaca tulisanku ini,
Percayalah; pada kesabaranmu, pada keikhlasanmu.
Kelak semua waktu yang kamu korbankan untuk menunggunya melihatmu, akan datang.
Sesuatu yang kamu sungguh bersungguh-sungguh, tak pernah berujung sia-sia.
Ia lebih tau, mana yang tepat untuk menjadi sekedar tamu atau tuan pemilik rumah.
Hanya saja, kamu memang harus memiliki hati seluas langit untuk tempat kesabaranmu pulang.

Minggu, 12 Mei 2019

Kau yang datang dari dunia maya

Mei 12, 2019 0
Tidakkah terlalu jahat? Berpikiran "Apa kau itu benar-benar ada?". Ya, mungkin, ini salah, sangat salah. Meragukan keberadaan orang yang selalu ada untuk kita itu, sedikit menyesakkan. Keraguan itu seperti kembali terperosok ke dasar sebuah jurang.

Hampir setiap hari, ku baca barisan kata-kata pesan darinya.
Terkadang, ku dengar pula suaranya, tawanya, gumamannya.
Kepeduliannya terhadapku, nyata.
Bahkan ketika kenyamanan yang ia tawarkan begitu nyata, ku masih meragukannya.
Ah, tidak, tidak, mungkin aku terlalu banyak membaca cerita serupa di internet.

Sama sepertiku, apa kau juga pernah meragukan keberadaanku? Orang yang hampir setiap hari kau ajak bicara via chat ini. Orang yang terkadang kau dengar suara isak tangisnya ini. Sungguh, meragukanmu itu menyesakkan. Sempat terlintas, apa aku yang terlalu pandai bergaul, atau, kau yang terlalu nyata untuk diragukan?

Hei, kau, tahukah?
Bahwa semua yang kau tawarkan itu, pernah sesekali membuat jantungku tergelitik. Aneh, tapi nyata. Sebelum akhirnya setumpuk keraguan lagi-lagi memenuhi ruang sesak di dadaku. Meski kini, sesak di ruang itu menjelma menjadi rasa takut yang aku sendiri belum cukup mampu mendefinisikannya.

Yk, 11 Mei 2019.

Selasa, 05 Februari 2019

Mak Comblang

Februari 05, 2019 0
Apa sih “mak comblang” itu? Apa serunya jadi mak comblang itu?
Mak comblang itu bisa disebut sebagai mediator/matchmaker yang tugasnya mempertemukan atau memperkenalkan dua sosok yang-mungkin- punya kecocokan dimata si makcomblang sendiri. Kalau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, makcomblang/mak·com·blang/ Jk n perantara pencari jodoh; perantara yang menghubungkan atau mempertemukan calon suami istri.
Jadi makcomblang itu bisa dibilang salah satu aksi yang mulia, hehe. Bayangin aja, bisa mempertemukan dua orang dengan harapan keduanya saling cocok. Ngga cuma bahagia, kita juga dapat pahala apalagi kalau pasangan tersebut sampai menikah. Tapi, jadi makcomblang itu susah-susah gampang lho, buat aku sendiri pun ngga asal kalau mau nyomblangin orang atau temenku. Banyak hal-hal yang harus dipastiin dulu diantara dua orang itu. Banyak juga suka dukanya jadi makcomblang, sukanya; kalau berhasil, cocok lalu mereka jadian sebagai makcomblang aku pasti juga turut bahagia. Dukanya; kalau berhasil ngenalin, cocok, tapi ngga sampai jadian, entah kenapa kadang jadi menyesal udah ngenalin, heuheu.
Kalau mau jadi makcomlbang juga ada aturannya, ngga boleh asal ngenalin orang. Nih, simak yah, aturan makcomblang versiku: 
  1. Jujur sejak awal, itu harus. Kenapa? Kalau mau melakukan niat baik harus dengan cara yang baik juga kan? Kasih tau temen dulu, kalau kita mau ngenalin seseorang ke dia atau ada seseorang yang pengen kenalan sama dia. 
  2. Minta ijin. Meski niatnya baik, tapi kan ngga semua niat baik ditangkap baik pula sama orang lain kan. Bilang si dia pengen kenalan sama kamu boleh ngga, kalau temenmu ngijinin barulah kita beraksi. 
  3. Latar belakang klien/target, ini penting banget menurutku. Kenapa? Sebelum kita ngenalin dua sosok ini, kita harus tau dua sosok ini sama-sama single ngga atau sama sekali ngga terikat apapun sama siapapun. Baik klien/target jujur soal aturan ini. Biar ngga merasa dirugikan sepihak gitu lho. Kalau aku sendiri, suka menanyakan ke klien/target, niatmu minta dikenalin apa? Karenakan itu anak orang ngga boleh dimain-mainin perasaannya. 
  4. Cari persamaan, ini nih tugasnya makcomblang yang pake “sedikit” mikir biar si klien/target ada obrolan buat memulai percakapan. Biasanya aku kasih tau sebatas nama, kuliah dimana, jurusan apa, orangnya sibuk apa, selanjutnya aku serahin ke mereka biar mereka ngulak-ngulik info sendiri, wkwk.
Eits, jangan mikir jadi makcomblang mulus-mulus aja aksinya. Karena kadang ada juga kliennya malah jadi suka sama makcomblangnya atau sebaliknya, wkwk. Jadi makcomblang, harus berani bawel, harus banyak akal, harus pinter; jaga perasaan sendiri, perasaan klien/target, ngga boleh terlalu kepo sama pendekatan mereka, harus siap telinga dan jadi orang netral, harus berani minta maaf kalau seandainya misi tidak berjalan mulus, heuheu.
By the way, aku bikin tulisan ini spesial buat peringatan anniversary unik dan j-punk. Tahun ini mereka anniversary ke empat tahun, kalau ngga salah. Mereka ini couple favoritku sejauh ini, karena mereka bukan tipe-tipe yang aneh-aneh, keduanya saling mau pasang telinga dan belajar memahami satu sama lain, dan kabar terbaru dari mereka; sudah dapat restu dari kedua orang tuanya-katanya-. Ya, kita doakan saja semoga mereka sampai pelaminan, amin :)) semoga hal-hal baik selalu menyertai kalian :))

Senin, 04 Februari 2019

Menyelami pikiranmu (Brian Krisna)

Februari 04, 2019 0
Ingin rasanya aku bisa selalu saja melihat apa yang ada di dalam kepalamu.

Hingga pada akhirnya aku bisa mengetahui jawaban perihal siapa yang sekarang ada di hatimu. Sosok siapa yang sebelum tidur selalu hadir dalam bayanganmu? Siapa yang menjadi latar belakang tulisanmu; dan untuk siapa ia tertuju? Foto siapa yang diam-diam kau lihat ketika kau sedang senggang waktu?

Apa yang ada dalam pikiranmu setelah bertemu aku? Apa yang kau rasakan ketika kita berdua berbicara sambil tersenyum? Kenangan apa yang kau kenang ketika di perjalanan pulang? Sosok siapa yang kau ingat ketika lagu yang kau suka berdendang?

Berapa jumlah detak jantungmu ketika menatapku? Siapa saja yang menghubungimu hari ini? Nama siapa yang paling kau tunggu muncul di layar notifikasi?

Dan, siapa orang beruntung yang selalu kau bayangkan menjadi sosok yang pertama kali ada ketika kau bangun dan membuka mata?

Aku ingin tahu,
Aku ingin tahu sekali !
Biar aku mengerti, biar aku yakin.
Apakah aku harus bertahan?
Atau menyerah di titik ini?

Social