Selasa, 13 Desember 2016

Sukses Terbesar Dalam Hidupku

Desember 13, 2016 0
Bicara sukses berarti bicara ukuran. Sebuah ukuran yang akan digunakan untuk mengukur sukses itu sudah tercapai atau belum. Ukuran tersebut akan berbeda-beda tiap orangnya. Seorang mahasiswa mungkin menentukan ukuran suksesnya dengan perolehan IPK-nya. Dengan demikian, sukses itu bisa dibilang subjektif. Lain orang, lain pula ukurannya. 

Bagi saya, sukses dalam hidup itu bersifat diskrit, terdiri dari elemen-elemen berbeda dan kadang tidak berhubungan. Dengan demikian, seseorang sebenarnya telah, sedang, dan akan terus mengalami banyak kesuksesan dalam hidupnya. Tinggal bagaimana persepsi seseorang dalam menilai setiap peristiwa dalam hidupnya, apakah dinilai sebagai sebuah kesuksesan atau sebaliknya. Masalahnya, sering kali ukuran sukses itu adalah sesuatu yang terlalu mainstream. Kekayaan, jabatan, karir, dan status sosial seringkali menjadi ukuran utama kesuksesan seseorang. Padahal, seseorang bisa saja membuat ukuran sukses yang sederhana. Bagi mahasiswa misalnya, tidak menyontek dalam ujian adalah kesuksesan.

Jika dalam kehidupan seseorang itu berisi kesuksesan-kesuksesan sederhana yang berbeda-beda, maka pertanyaan tentang “sukses terbesar dalam kehidupan” akan menjadi pertanyaan yang cukup menantang. Mana yang menjadi sukses terbesar? Tidak menyontek saat ujiankah? Lulus dengan IPK cum laude-kah? Memiliki karir yang baguskah? Atau yang mana? Lagi-lagi suatu hal yang subjektif.  

Saya teringat dengan sabda Nabi Muhammad shollallahu alaihi wa sallam yang mengatakan, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. Untaian kalimat ringkas nan indah itu menginspirasi saya dalam menentukan mana yang menjadi kesuksesan terbesar dalam hidup. Bagi saya, sukses terbesar adalah ketika saya bisa bermanfaat bagi orang lain. Terdengar klise memang, tetapi tidak jika dipahami lebih dalam. Bagi saya, ukuran sukses yang cenderung mainstrem tidaklah masalah. Namun, semata-mata menjadi sukses dengan ukuran mainstream saja rasanya ada yang kurang. Ibarat sayur kurang garam, kurang sedap dirasa. Oleh sebab itu, menambahkan bumbu “bermanfaat bagi orang lain” akan menambah sedap kesuksesan tersebut. 

Menjadikan asas kebermanfaatan bagi orang lain sebagai pondasi kesuksesan akan menambah kokoh kesuksesan itu sendiri. Sebaliknya, menafikannya akan membuat bangunan kesuksesan itu berpotensi runtuh sewaktu-waktu. Saya merasakan betul hal ini ketika berstatus sebagai mahasiswa. Menjadi mahasiswa, apalagi di jurusan dan  perguruan tinggi negeri meski belum favorite ekali, adalah sebuah kesuksesan tersendiri bagi saya. Hal ini ditambah kenyataan bahwa kesempatan untuk berkuliah adalah sesuatu yang agak langka bagi sebagian orang di negeri ini. Pada saat itulah, nilai sesungguhnya dari kesuksesan itu diuji. Seberapa bermanfaatkah saya ketika menjadi mahasiswa? Apalagi, menjadi mahasiswa adalah momentum yang sangat tepat dalam melatih diri untuk menjadi bermanfaat bagi sesama. 

Selanjutnya, bagian terpenting dari sebuah kesuksesan yang bermanfaat, menurut saya, adalah usaha seseorang dalam menjadikan kesuksesan itu bermanfaat, bukan hasilnya. Maksudnya, seberapa terasa manfaat dari sebuah kesuksesan bagi sesama itu penting, namun usaha dan proses menuju ke arah itu justru lebih penting. Sebagaimana petuah yang sering disampaikan, “yang penting itu prosesnya, bukan hasilnya”, maka begitu pula berlaku dalam hal ini. Dengan demikian, sejauh mana usaha saya untuk menjadikan kesuksesan yang telah diraih bisa dinikmati pula oleh sesama merupakan bagian yang saya anggap paling penting. Adapun masalah hasil dari usaha itu, biarlah orang lain yang menilai. 

Dengan menyadari hal ini, saya termotivasi untuk selalu berbuat yang terbaik tanpa sibuk memikirkan hasilnya. Saya tidak mengatakan bahwa hasil itu tidaklah penting. Hasil itu penting, karena hal itulah yang biasanya kasat mata dan bisa dinikmati oleh orang lain. Akan tetapi, saya berkeyakinan bahwa hasil terbaik akan lahir dari usaha yang terbaik pula. Dengan melakukan yang terbaik, maka hasil yang terbaik tinggal masalah waktu. Oleh karena itu, lakukanlah yang terbaik dalam upaya menjadikan kesuksesan kita bermanfaat bagi sesama, maka manfaat terbaik dari kesuksesan kita itu akan benar-benar bisa dirasakan oleh sesama. 

Sebagai penutup tulisan singkat ini, saya mengajukan sebuah definisi tentang sukses. Menurut saya, sukses adalah ketika Anda bisa bermanfaat bagi orang lain. Kata “ketika” yang merupakan preposisi waktu, menandakan bahwa sukses bisa terjadi kapan saja, tidak ada batasan waktu tertentu. Satu-satunya yang menjadi tolok ukur adalah “bermanfaat bagi orang lain”. Oleh karena itu, setiap kali Anda bisa bermanfaat bagi orang lain, setaip kali itu pula Anda telah sukses. Demikianlah, kalimat ringkas tersebut selain mampu mendefinisikan kata “sukses” itu sendiri, juga mampu menjawab pertanyaan: apakah yang menjadi sukses terbesar dalam hidupmu? 

Selasa, 18 Oktober 2016

Bayangkan & Rasakan (menjadi aku)

Oktober 18, 2016 0
Apa kau pernah diabaikan orang meskipun dia bilang kau tidak bersalah? 
Apa kau pernah merasa begitu bodoh karena kemudian terlalu memikirkannya? 
Apa kau pernah kebingungan sampai kadang melamun di keramaian?
Apa kau pernah begitu begitu kesal karena terlalu sering memimpikan orang yang sama?
Apa kau pernah sangat marah dan sedih sekaligus sampai tubuhmu gemetar dan tidak bisa menangis lagi?
Apa kau pernah diabaikan begitu rupa pada hari ulang tahunmu sendiri?
Apa kau pernah menulis lebih dari 100 puisi untuk orang yang tidak mau bicara padamu selama puluhan hari?
Apa kau pernah ingin menampar seseorang?

(tapi kemudian sadar kau tidak punya cukup kekuatan).

Apa kau pernah tiba-tiba ingin memukul kaca atau membanting sesuatu?
Apa kau pernah berkali-kali melempar ponselmu ke lantai atau ke kolong ranjang?
Apa kau pernah begitu kecewa ketika aku mengambil ponselmu lagi, tetap tidak ada pesan dari orang yang kau harapkan di sana?
Apa kau pernah marah pada dirimu sendiri karena sebenarnya masih ada begitu banyak hal yang perlu disyukuri?
Apa kau pernah kehilangan dirimu sendiri?
Apa kau pernah merasa kalah berkali-kali?
Apa kau pernah mengajak bicara seseorang sampai putus asa dan akhirnya merasa terhina?

(ketika itu kau merasa bodoh, kesal, bingung, tersinggung, menyedihkan dan seperti pengemis sekaligus –ketika aku mengajakmu bicara tapi kau tetap diam seribu bahasa).

Apa kau pernah tiba-tiba ingin menjadi orang yang paling tidak peduli di dunia?
Apa kau pernah menyesal karena menyadari kau terlalu berlebihan?
Apa kau pernah memikirkan begitu banyak hal dan kemungkinan sampai kau lelah dan sakit kepala?
Apa kau pernah merasa malu karena terlalu sering mencemburui sesuatu yang bukan hakmu?
Apa kau pernah merasa dadamu sakit dan tanganmu gemetar ketika cemburu?
Apa kau pernah ingin menangis tengah malam tapi tidak ada seorang pun di dekatmu?
Apa kau pernah tiba-tiba tidak menyukai keramaian?
Apa kau pernah merasa malas tersenyum atau bertemu dengan orang-orang?
Apa kau pernah tiba-tiba malas untuk makan dan membiarkan dirimu kelaparan?
(padahal biasanya kau selalu makan tiga kali sehari).
Apa kau pernah malas untuk tidur dan begadang tanpa tahu apa yang harus dikerjakan? (padahal biasanya kau tidur jam sepuluh).
Apa kau pernah menghadap laptop berjam-jam sambil menangis sampai sakit kepala? (kau beralasan sedang menonton film sedih padahal kau hanya ingin punya alasan untuk bisa menangis).
Apa kau pernah merasa bahwa perasaanmu, sedih atau senang, bukan lagi kau yang menentukan?
Apa kau pernah merasa mengenal orang-orang yang bahkan belum pernah kau temui?
Apa kau pernah dengan konyol dan bodohnya merasa bersaing dengan bayangan?
Apa kau pernah merasa muak dengan dirimu karena terlalu ingin tahu urusan orang lain?
Apa kau pernah menyalahkan jarak sebagai pembunuh, padahal kau sendirilah pelakunya?

Apa kau pernah memikirkan sebentar saja tentang semua itu?
Apa kau pernah sebentar saja membayangkan menjadi aku?
Sebab, itulah semua hal yang kurasakan ketika kau mendiamkanku tanpa alasan yang bisa kupahami.

Tapi pada akhirnya aku harus kembali pada kenyataan bahwa setiap manusia terlahir dengan kebebasan. Hanya saja, setidaknya kau harus memberitahu apakah aku harus berhenti atau menunggu.

Rabu, 14 September 2016

Belajar Menerima yang Harus Diterima

September 14, 2016 0
Ah, lagi-lagi sebuah kekecewaan yang harus kamu telan kembali. Kamu diam-diam menangis kamu tidak ingin semua pasang mata melihat, kamu tidak ingin semua pasang telinga mendengar. Hatimu yang kembali hancur berantakan.  Bagimu ini mungkin kesakitan yang kesekian bahkan kamu lupa kapan pertama kali kamu memilikinya. Dan kini, ketika kamu mengingat kembali harapan serta kenyataan yang sama sekali tak sesuai dengan perencanaanmu.

Lalu, dengan hati yang tak berbentuk lagi kamu mencoba berdoa, kamu mencoba kembali mengetuk pintu Ilahi, siapa tahu Tuhan masih memiliki sedikit rasa kasihan. Pikirmu, kamu menangisi kesedihan yang sama sekali tidak ingin ditangisi. Untuk apa?  Bukankah dia sendiri yang meminta untuk ditanggalkan? Lalu kenapa kamu masih ingin dia tetap tinggal? Ah sudahlah hati, belajarlah untuk menerima segala yang belum menjadi hak milikmu.

Tak perlu mereka-reka bagaimana harapan-harapan itu akan terwujud nantinya. Mesti sekarang kamu sedang menikmati indahnya berharapan dalam angan-angan. Sudahi perih di hati, sesakit apapun kamu. Tisu takkan pernah cukup untuk menghapus airmatamu. Sia-sia bukan? Menangis karena kesedihan pada manusia. Kenapa pada Tuhan kamu pelit mengeluarkan airmata? Padahal kamu tahu bahwa sejatinya cinta hanya padaNya. Percayakan kebahagiaan pada pemilik hati, karena ketika kamu hanya menunggu angan itu tercapai tanpa mengusahakan untuk menggapai.

Seagung-agung apapun doa yang kamu rangkai, tetap tidak akan pernah sampai. Bebaskan hatimu dengan segala prasangka-prasangka yang kamu kira adalah bahagia. Dan satu hal yang harus kamu yakini ialah sebuah kehilangan mengajarkan seberapa tabah kamu mencintai, seberapa tabah kamu mengikhlaskan. Belajarlah menerima bahkan yang tidak bisa kamu terima.

Itulah cara terbaik mendamaikan hati, sebab kesakitan terasa lebih pedih jika terus dipikirkan. Lalu kini, masihkah kamu meratapi segala kurangmu. Ah, sayang sekali. Kamu telah melewatkan kesempatan terbaik. Kadang di balik penolakan, Tuhan, barangkali Ia malah sedang merencanakan kebahagiaan lainnya. Kamu tahu kenapa saya berkoar-koar seperti ini, karena hanya hati yang pernah tertanggalkan yang bisa memahami bagaimana perihnya tertinggalkan.  But, kehidupan terlalu pendek jika hanya dilewati dengan kesedihan, kecemasan serta kegalauan yang tak ada habisnya. Kamu harus tahu, sebagaimana kebahagiaan yang cepat berlalu, kesedihan juga bakalan berlalu. Kamu hanya perlu mengokohkan hati kembali. Yang telah hilang lebih memilih mengabdi pada kenang. Relakan kamu tidak perlu meminta pertanggungjawaban Tuhan atas doa-doa yang salah ditempatkan. Sebab nyatanya takdir Tuhan terlampaui indah untuk kamu reka dengan anganmu.

Matahari tenggelam membuktikan bahwa kata tamat tidak seburuk itu. Tuhan amat baik, dia hanya sedang mempersiapkan sebuah kejutan untukmu. Yang kamu bahkan tak pernah memintanya. Lalu, masihkah menyalahkan sebuah pertemuan atas perpisahan?  Andai saya dan kamu mengerti bahwa selalu ada hal baik ketika Tuhan memutuskan mempertemukan. Entah sebagai pengisi cerita atau sebagai tokoh utama. Entahlah, hanya dia yang tahu. Kita hanyalah pelakon saja. Sebaiknya kamu jangan pernah lupa, bahwa Tuhan lebih tahu kapan saat yang tepat untuk tercapainya sebuah harapan. Kamu hanya perlu terus berusaha tanpa berhenti berdoa. Dan terus memantaskan diri. Untuk kamu yang percaya, kesedihan akan segera berlalu bersama waktu. Sebagaimana pelangi yang hadir setelah hujan, begitulah cara Tuhan menghibur hati yang berantakan. 

Salam bahagia, wahai hati.

Selasa, 13 September 2016

Jatuh Hati Terburu-buru

September 13, 2016 0
Kita hanya (berpura-pura) saling menyapa. Barangkali itulah yang membuat kita jadi berdebar pada apa yang sebentar. Dia merasa tidak mampu lagi menopang rindu dari perempuan setia itu. Ah, barangkali itulah yang menjadi alasan baginya untuk lepas dari perempuan setia itu. Sialnya, perempuan setia itu terlanjur menggantungkan segala harapan pada lelaki lemah itu. Mungkin begitulah perempuan, sekali menjatuhkan hati selamanya sulit terobati.

Pada akhirnya perempuan itu merasakan lukanya lagi. Denyut yang ia pikir adalah kebahagiaan rupanya samaran lain dari kesakitan. Rasa kehilangan yang beruntun, ah Tuhan benar-benar maha penguji. Kau mungkin tidak akan pernah melihat kepahitan di kerut-merut wajahnya. Sebab perempuan itu terlalu pandai menutupi lukanya.

Kau takkan bisa membayangkan bagaimana pahitnya luka yang barusan mengabdi pada hatinya. Bahkan ketika lelaki lemah itu memutuskan sebuah perjanjian, ia tetap tak ingin kehilangan senyuman. Ia hanya ingat satu hal, sebagaimana Tuhan sering berkata "tiada luka yang abadi begitu pun rasa sakit. Yang pergi akan selalu berganti. Yang memilih menghilang, biarkan hilang dalam bayang.

Lagi-lagi kau bakalan dibuat terpana kesekiaannya, bagaimana perempuan itu menghadapi kehidupan yang bakalan terus-terusan menguji hatinya. Pertanyaan setan datang dari arah tak karuan. Dengan senyum sumringah, gigi yang tidak terlalu wah. Tertawa cekikikan sambil berkata "kapan, "kapan, "kapan.

Mereka tidak pernah membayangkan bagaimana pertanyaan sepele yang menurut mereka sudah mampu menerobos ruang suci di hatinya. Ruang yang baru saja memulai hidup kembali, ruang yang baru saja berdiri kembali. Asumsi dari mereka yang sudah merasa memiliki bahagia, mereka yang mengira bahagianya sempurna, maka mereka kira dengan melontarkan pertanyaan tanpa doa sudah lebih dari cukup.

Ah, sabarlah wahai hati. Bukankah nikmat tuhan maha luas dan tidak pernah berbatas. Selama kau meyakini tuhanmu sedang mempersiapkan kebahagiaan, suatu hari yang menurutnya sudah tepat bakalan akan kau rayakan kemenangan. Tetaplah menjadi luarbiasa, jangan mengira dengan kehilangan telah menjadikanmu tidak berguna. Siapa yang mengira ada yang diam-diam menyimpan doa untuk bahagiamu, berdoa pada tuhan untuk bisa segera dipertemukan denganmu. Sayang sekali jika senyum indahmu berganti muram durja.

Hai perempuan, hatimu yang selembut sutera adalah anugerah dari pencipta. Karena semesta membutuhkan kelembutan untuk bisa terus berirama. Maka dari itu, jangan biarkan kesedihan bermukim terlalu lama. Selalu ada hari yang cerah setelah badai menerpa.

Tetaplah dengan keyakinan, kesetiaan yang kau pertahankan akan dibalas kesetiaan. Tangisan bukan berarti kelemahan, kau boleh menangisi kehilangan tapi tidak untuk menangisinya ribuan. Hentikan segera, sebab tissue saja belum tentu mampu menghapus airmatamu yang terlanjur sungai. Dia yang memilih menghilang, adalah cara tuhan menjauhkan dari kesakitan yang lebih dalam.Tidak ada yang tidak layak bahagia, semua makhluk yang bernyawa berhak bahagia. Karena bahagia adalah cara kau bersyukur atas segala kuasa pencipta.

Kini mulailah berlari dengan kakimu kembali, jangan terburu-buru menjatuhkan hati. Pada waktunya, hati tahu arah pulang ke rumah yang sesungguhnya.

Salam bahagia.

Jumat, 17 Juni 2016

Selamat Tinggal Kenangan ..

Juni 17, 2016 0
Aku tau, sulit rasanya melupakan kita yang dulu padahal kamu begitu mudah melupakan kita. Kita yang dulu pernah ada

Apa kamu tau, yang tersulit itu bukan mengucapkan selamat tinggal. Tapi untuk membiasakan diri disaat aku melewati tempat yang dulu pernah ada kamu dan aku.. jejakmu tertinggal. Tertinggal pada tempat yang dulu pernah kita singgahi, masa dimana ada kamu, ada aku, ada kita. Aku sebut itu, masa lalu. Setidaknya kamu pernah bikin aku nyaman, pernah membuatku jatuh cinta, pernah membuat aku bahagia..

Aku lelah, lelah berharap dalam kata kata yang pada akhirnya tidak seperti yang kamu bilang. Rasa sakit itu tidak akan pernah kamu tau.. rasanya kehilangan, rasanya kehilangan orang yang selalu membuat kamu tersenyum, tapi apa.. Sekarang kamu selalu membuat aku menangis. Aku ingin, tertawa bahagia, tapi kamu tau, sampai detik inipun, aku belum juga menemukan hari dimana aku tertawa lepas bahagia seperti saat bersamamu..

Ingat café itu, tempat dimana kita pertama kali bertemu. Tempat dimana kamu duduk disampingku, tempat dimana kamu membuatku bahagia untuk pertama kaliya. Tapi sekarang aku duduk disini menatap kekosongan, menetap kesepian, kehilangan kamu yang dulu pernah ada disampingku, yang selalu membuat aku tertawa bahagia.. bantu aku ntuk melupakan mu..

Selamat tinggal kenangan..

Minggu, 08 Mei 2016

The Finest Tree - Not a Loser

Mei 08, 2016 0
Jika waktu dapat terulangi
Takkan pernah ku terjatuh di kesalahanku
Agar tak seperti ini takdir hidupku
Cause i'm not a loser
Cause i'm not a loser
Jika nanti aku tlah terbangun lagi
Kan ku coba rapikan
Yang kau hancurkan
Agar tak terulang lagi rasa sakitku
Cause i'm not a loser
I'm not a loser
Takkan menyerah demi hidup  yang indah
Takkan menyerah perjuangkan hidupku
Aku takkan menyerah..
Aku takkan menyerah..

Senin, 18 April 2016

Selamat Ulang Tahun Malaikat Tak Bersayap

April 18, 2016 0
Selamat ulang tahun wahai malaikat tak bersayap :)
Ibu, aku sedih tiap ulang tahunmu. Karena semakin berkurang juga umurmu. Terima kasih telah turun ke bumi, terima kasih karena selalu sehat merawat kami, terima kasih telah menjadi ibu dan juga sahabat untuk kami, terima kasih karena selalu menomor satukan kebahagian kami, menomor satukan urusan-urusan kami, menomor satukan perasan-perasaan kami, menomor satukan juga kesehatan kami. Terima kasih ibu ♥
Ibu yang tak pernah marah kecuali kami memang bandel (pollll). Ibu yang tak pernah terlihat menangis dihadapan kami. Ibu yang terhebat, yang terbaik, best of the best buat kami.
Ibu, selalu jaga kesehatanmu, agar kami bisa membalasmu di suatu hari nanti. Terima kasih sudah mendidik kami meskipun kadang kami rewel, bandel dan susah di atur. Maafkan kami ibu ♥ karena kami belum bisa memberi mu apa-apa, kami hanya memberi mu kesulitan dan kesulitan..
Ibu, aku percaya. Setiap langkah yang menujuku ke keselamatan, keberhasilan, kebahagian disitu pula doa-doamu berada.
Tetap jadi ibu kami yang super duper best ツ jadi istri dan teman hidup ayah selamanya..
We love you, ibu..

Sabtu, 19 Maret 2016

Cinta Sejati

Maret 19, 2016 0
Aku jatuh cinta padamu 
Sejak pertama kita bertemu 
Diam menghuni relung hati 
Kau tak pernah perduli

Tuhan mengapa kau anugerahkan 
Cinta yang tak mungkin tuk bersatu 
Kau yang telah lama kucintai 
Ada yang memiliki
Cinta sejati
Tak akan pernah mati 
Selalu menghiasi ketulusan cinta ini

Jalan hidup telah membuat kita 
Harus senantiasa bersama 
Lewati Segala suka duka 
Tiada cinta bicara

Dan kau 
Selalu hanya diam membisu 
Meskipun engkau tahu 
Batapa dalam cintaku
Aku jatuh cinta padamu 

Jumat, 18 Maret 2016

Cinta dalam diam..

Maret 18, 2016 0
Jatuh cinta itu bagai pertanyaan yang terus ditanyakan, tapi tak bisa pula dijawab. Galau galau bingung sendiri gitu.. :D

Cinta itu fitrah, yang datangnya tiba-tiba. Mungkin.. dari mata lalu turun ke hati. Bisa juga, dari telinga lalu turun ke hati, and then bersemi ^^. Penyair bilang, jatuh cinta itu membingungkan “aku gak tau apa pesonanya yang terlalu memikat? Atau mungkin akalku yang tidak lagi di tempat?”.
Cinta menjanjikan kebahagiaan semu. Kenapa? Karena waktu kita habis Cuma buat mikirin si dia. Semua jadi keliatan bagus, makanya banyak yang bilang “cinta itu memang buta”.
Satu hal yang selalu aku renungi, cinta yang aku pendam itu, apakah cinta yang menipu? Atau memang karna Allah?
Ada yang bilang “cinta, semakin di kejar maka ia akan semakin jauh” mungkin itu benar adanya. *pengalaman*
Semakin aku berharap akan kehadirannya, semakin keras pula usahaku melupakannya.
Semakin aku ingin mencari perhatiannya, semakin ingin aku menepis dan mencari pemilik hatinya, Allah.

Aku suka sekali berandai-andai..
“mungkin dia, mungkin juga bukan dia.” Makanya sekarang aku takut akan hal-hal yang terkait dengan sesuatu yang masih “mungkin”.

Sedikit cerita dari kisah Ali dan Fatimah. Yang mungkin bisa kita teladani. Tentang bagaimana Ali menjaga cintanya kepada Fatimah, hingga Allah menyatukan mereka dalam pernikahan O: )

Ali sangat menjaga kata-katanya, ekspresinya, sikapnya, bahkan setan tidak tau urusan cinta dalam hati mereka. Ali belum siap, maka ia belum melamar Fatimah. Saat Abu Bakar dan Ummar melamar Fatimah, hatinya bagai tercabik :” ternyata lamaran Abu bakar dan Ummar di tolak. Akhirnya Ali memberanikan diri maju melamar Fatimah. Ali meminta Fatimah menunggu 3 tahun lagi? Itu memalukan. Meminta Fatimah menunggu hingga ia siap? Ia merasa sudah dewasa. Jantan :D.

“engkau pemuda sejati wahai Ali. Pemuda yang siap bertanggung jawab atas cintannya. Ahlan wasahlan”. Begitu kata Nabi dengan senyuman.

Dengan keberanian Ali menikahi Fatimah, tanpa janji-janji, tanpa nanti. Inilah cinta yang bertanggung jawab. Fatimah berkata..
“maafkan aku, sebelum menikah aku pernah mencintai seseorang” kata Fatimah
“lalu kenapa kau mau menikah denganku? Siapa pemuda itu?” jawab Ali
“pemuda itu engkau Ali..” kata Fatimah dengan senyumnya

Ya Allah, hadiahkan kepadaku pemuda seseorang seperti Ali dan jadikanlah aku Fatimah baginya :’)

Social