Rabu, 14 September 2016

Belajar Menerima yang Harus Diterima

September 14, 2016 0
Ah, lagi-lagi sebuah kekecewaan yang harus kamu telan kembali. Kamu diam-diam menangis kamu tidak ingin semua pasang mata melihat, kamu tidak ingin semua pasang telinga mendengar. Hatimu yang kembali hancur berantakan.  Bagimu ini mungkin kesakitan yang kesekian bahkan kamu lupa kapan pertama kali kamu memilikinya. Dan kini, ketika kamu mengingat kembali harapan serta kenyataan yang sama sekali tak sesuai dengan perencanaanmu.

Lalu, dengan hati yang tak berbentuk lagi kamu mencoba berdoa, kamu mencoba kembali mengetuk pintu Ilahi, siapa tahu Tuhan masih memiliki sedikit rasa kasihan. Pikirmu, kamu menangisi kesedihan yang sama sekali tidak ingin ditangisi. Untuk apa?  Bukankah dia sendiri yang meminta untuk ditanggalkan? Lalu kenapa kamu masih ingin dia tetap tinggal? Ah sudahlah hati, belajarlah untuk menerima segala yang belum menjadi hak milikmu.

Tak perlu mereka-reka bagaimana harapan-harapan itu akan terwujud nantinya. Mesti sekarang kamu sedang menikmati indahnya berharapan dalam angan-angan. Sudahi perih di hati, sesakit apapun kamu. Tisu takkan pernah cukup untuk menghapus airmatamu. Sia-sia bukan? Menangis karena kesedihan pada manusia. Kenapa pada Tuhan kamu pelit mengeluarkan airmata? Padahal kamu tahu bahwa sejatinya cinta hanya padaNya. Percayakan kebahagiaan pada pemilik hati, karena ketika kamu hanya menunggu angan itu tercapai tanpa mengusahakan untuk menggapai.

Seagung-agung apapun doa yang kamu rangkai, tetap tidak akan pernah sampai. Bebaskan hatimu dengan segala prasangka-prasangka yang kamu kira adalah bahagia. Dan satu hal yang harus kamu yakini ialah sebuah kehilangan mengajarkan seberapa tabah kamu mencintai, seberapa tabah kamu mengikhlaskan. Belajarlah menerima bahkan yang tidak bisa kamu terima.

Itulah cara terbaik mendamaikan hati, sebab kesakitan terasa lebih pedih jika terus dipikirkan. Lalu kini, masihkah kamu meratapi segala kurangmu. Ah, sayang sekali. Kamu telah melewatkan kesempatan terbaik. Kadang di balik penolakan, Tuhan, barangkali Ia malah sedang merencanakan kebahagiaan lainnya. Kamu tahu kenapa saya berkoar-koar seperti ini, karena hanya hati yang pernah tertanggalkan yang bisa memahami bagaimana perihnya tertinggalkan.  But, kehidupan terlalu pendek jika hanya dilewati dengan kesedihan, kecemasan serta kegalauan yang tak ada habisnya. Kamu harus tahu, sebagaimana kebahagiaan yang cepat berlalu, kesedihan juga bakalan berlalu. Kamu hanya perlu mengokohkan hati kembali. Yang telah hilang lebih memilih mengabdi pada kenang. Relakan kamu tidak perlu meminta pertanggungjawaban Tuhan atas doa-doa yang salah ditempatkan. Sebab nyatanya takdir Tuhan terlampaui indah untuk kamu reka dengan anganmu.

Matahari tenggelam membuktikan bahwa kata tamat tidak seburuk itu. Tuhan amat baik, dia hanya sedang mempersiapkan sebuah kejutan untukmu. Yang kamu bahkan tak pernah memintanya. Lalu, masihkah menyalahkan sebuah pertemuan atas perpisahan?  Andai saya dan kamu mengerti bahwa selalu ada hal baik ketika Tuhan memutuskan mempertemukan. Entah sebagai pengisi cerita atau sebagai tokoh utama. Entahlah, hanya dia yang tahu. Kita hanyalah pelakon saja. Sebaiknya kamu jangan pernah lupa, bahwa Tuhan lebih tahu kapan saat yang tepat untuk tercapainya sebuah harapan. Kamu hanya perlu terus berusaha tanpa berhenti berdoa. Dan terus memantaskan diri. Untuk kamu yang percaya, kesedihan akan segera berlalu bersama waktu. Sebagaimana pelangi yang hadir setelah hujan, begitulah cara Tuhan menghibur hati yang berantakan. 

Salam bahagia, wahai hati.

Selasa, 13 September 2016

Jatuh Hati Terburu-buru

September 13, 2016 0
Kita hanya (berpura-pura) saling menyapa. Barangkali itulah yang membuat kita jadi berdebar pada apa yang sebentar. Dia merasa tidak mampu lagi menopang rindu dari perempuan setia itu. Ah, barangkali itulah yang menjadi alasan baginya untuk lepas dari perempuan setia itu. Sialnya, perempuan setia itu terlanjur menggantungkan segala harapan pada lelaki lemah itu. Mungkin begitulah perempuan, sekali menjatuhkan hati selamanya sulit terobati.

Pada akhirnya perempuan itu merasakan lukanya lagi. Denyut yang ia pikir adalah kebahagiaan rupanya samaran lain dari kesakitan. Rasa kehilangan yang beruntun, ah Tuhan benar-benar maha penguji. Kau mungkin tidak akan pernah melihat kepahitan di kerut-merut wajahnya. Sebab perempuan itu terlalu pandai menutupi lukanya.

Kau takkan bisa membayangkan bagaimana pahitnya luka yang barusan mengabdi pada hatinya. Bahkan ketika lelaki lemah itu memutuskan sebuah perjanjian, ia tetap tak ingin kehilangan senyuman. Ia hanya ingat satu hal, sebagaimana Tuhan sering berkata "tiada luka yang abadi begitu pun rasa sakit. Yang pergi akan selalu berganti. Yang memilih menghilang, biarkan hilang dalam bayang.

Lagi-lagi kau bakalan dibuat terpana kesekiaannya, bagaimana perempuan itu menghadapi kehidupan yang bakalan terus-terusan menguji hatinya. Pertanyaan setan datang dari arah tak karuan. Dengan senyum sumringah, gigi yang tidak terlalu wah. Tertawa cekikikan sambil berkata "kapan, "kapan, "kapan.

Mereka tidak pernah membayangkan bagaimana pertanyaan sepele yang menurut mereka sudah mampu menerobos ruang suci di hatinya. Ruang yang baru saja memulai hidup kembali, ruang yang baru saja berdiri kembali. Asumsi dari mereka yang sudah merasa memiliki bahagia, mereka yang mengira bahagianya sempurna, maka mereka kira dengan melontarkan pertanyaan tanpa doa sudah lebih dari cukup.

Ah, sabarlah wahai hati. Bukankah nikmat tuhan maha luas dan tidak pernah berbatas. Selama kau meyakini tuhanmu sedang mempersiapkan kebahagiaan, suatu hari yang menurutnya sudah tepat bakalan akan kau rayakan kemenangan. Tetaplah menjadi luarbiasa, jangan mengira dengan kehilangan telah menjadikanmu tidak berguna. Siapa yang mengira ada yang diam-diam menyimpan doa untuk bahagiamu, berdoa pada tuhan untuk bisa segera dipertemukan denganmu. Sayang sekali jika senyum indahmu berganti muram durja.

Hai perempuan, hatimu yang selembut sutera adalah anugerah dari pencipta. Karena semesta membutuhkan kelembutan untuk bisa terus berirama. Maka dari itu, jangan biarkan kesedihan bermukim terlalu lama. Selalu ada hari yang cerah setelah badai menerpa.

Tetaplah dengan keyakinan, kesetiaan yang kau pertahankan akan dibalas kesetiaan. Tangisan bukan berarti kelemahan, kau boleh menangisi kehilangan tapi tidak untuk menangisinya ribuan. Hentikan segera, sebab tissue saja belum tentu mampu menghapus airmatamu yang terlanjur sungai. Dia yang memilih menghilang, adalah cara tuhan menjauhkan dari kesakitan yang lebih dalam.Tidak ada yang tidak layak bahagia, semua makhluk yang bernyawa berhak bahagia. Karena bahagia adalah cara kau bersyukur atas segala kuasa pencipta.

Kini mulailah berlari dengan kakimu kembali, jangan terburu-buru menjatuhkan hati. Pada waktunya, hati tahu arah pulang ke rumah yang sesungguhnya.

Salam bahagia.

Social