Patah Hati terhebatku
Bismillah...
Tiga bulan yang lalu, aku mengalami patah hati terhebatku. Rasanya seperti diterbangkan ke langit lalu dihempaskan ke bumi, sakit sekali. Mungkin aku yang terlalu menyukainya dengan sangat sampai aku lupa berpijak. Sebenarnya teman-temanku sudah berulang kali mengingatkan untuk tidak melibatkan perasaan ketika dengannya. Tapi apalah perempuan ini, sekalipun dikecewakan dengan sangat pun aku tak bisa membencinya dengan sangat juga. Hanya sebatas ngedumel lalu akhirnya lupa. Akhirnya seminggu setelah patah hati terhebatku, aku memutuskan, meyakinkan untuk tidak terlibat apapun lagi dengannya. Tidak untuk memulai percakapan apapun dengannya, hanya sebatas melihat storiesnya yang lewat di whatsapp.
Suatu hari, aku menerima sebuah pesan dari Mira (nama yang disamarkan) dalam pesannya, Mira mengatakan "kenapa sih temenmu" dengan sebuah lampiran screenshot percakapan Mira dengannya. Awalnya ku anggap itu hal biasa, kemudian lain hari Mira mengirimi pesan yang sama sebuah screenshot percakapan dengan caption, kenapa rasanya panas sekali ketika membacanya sungguh, gemuruh yang terdengar adalah gemuruh amarah "mengapa kau begitu dengannya" tetapi hanya ku simpan sendiri kala itu dan pesan Mira hanya ku balas "kalau nexttime dia chat kamu lagi, aku titip salam ya Ra, bilang saja dari hamba Allah, hehe :)" begitulah ku akhiri pesanku dengan Mira petang hari itu. Begitu juga ku akhiri segala urusanku dengannya, anggap saja aku mengetok paluku sendiri. Hehe.
Lebaran tinggal menghitung hari, entah kenapa rasa yakinku untuk mengakhiri segala urusanku dengannya makin kuat. Aku lupa, kapan tepatnya percakapanku dengan Mira, yang mana Mira mengatakan "aku ingin menunjukkan sesuatu tentang dia kalau kamu udah balik Jogja Sa", rasa penasaran sempat muncul di kepalaku sampai akhirnya ku tepis dengan tega "ah, paling juga percakapan Mira sama dia lagi". Tiba hari aku pulang ke Jogja, ketika aku bertemu Mira, Mira melunasi kata-katanya yang ingin menunjukkan sesuatu padaku. Setelah Mira memberitahu, aku hanya diam di depan Mira dan Amel. Aku tertawa, bercanda, seperti biasa kala berkunjung ke rumah Amel. Cukup kamu simpan sendiri saja Sa.
Dari patah hati terhebatku, akhirnya aku memutuskan untuk tidak menyukai seseorang lagi sampai entah kapan waktu yang tidak ditentukan. Nyesek? Iya, sekali. Sempat galau? Ya, pasti. Karna aku sendiri bukan tipe orang yang mudah menyukai seseorang. Sekali aku menyukai seseorang, ya, sudah, satu saja. Setiap hari belajar mengikhlas, merelakan, melepaskan, perlahan-lahan. Tetapi, darinya aku banyak mengambil pelajaran berharga bahwa Ketika aku berusaha keras menyukainya, Allah akan semakin menjauhkan aku darinya. Mengapa? Allah tidak suka hambanya yang seperti itu. Dari kehilangan (keputusanku sendiri) akhirnya aku bisa kembali fokus pada tujuanku, semakin mendekatkan diri juga pada-Nya. Semakin memaafkan diriku sendiri atas kesalahan yang kubuat sendiri.
- Patah hati terhebat, akan membuat yang patah enggan lagi merasakan kembali yang pernah dirasa.
- Patah hati terhebat, selalu membuka jalan kembali pada yang sempat terabaikan.
- Patah hati terhebat, akan menuntun yang patah untuk sembuh dengan cara yang baru.
Dan, teruntuk kamu, patah hati terhebatku. Ku ucapkan banyak banyak terima kasih, sungguh. Darimu, aku bisa membuka mata, menata kembali yang berserakan, berusaha makin mendekatkan diriku pada-Nya. Tak ada dendam apapun padamu, terima kasih, sudah memberiku kesempatan mengenalmu.
dari sebuh kisah teman, pelajaran untuk diriku.
salam. Lina.
