Kamu; Alhamdulillah dan Bismillahku.
Malam ini tiba-tiba saja namamu berkali-kali lipat terngiang di kepalaku lebih dari biasanya. Ku akui ada kelegaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata tapi cukup ku gambarkan dengan satu kata; Alhamdulillahirobbil'alamiin.
Iya, aku mengenalmu hampir setengah dari umurku saat ini. Banyak sekali hal yang sudah aku lalui bersama atau dengan mengenalmu. Ku pikir, kamulah yang berkali-kali memaafkanku tanpa kamu mengucapkannya tapi kamu lakukan dengan perbuatan. Dengan menerimaku. Kamu tau? Pertemuan pertama kita masih terekam jelas di kepalaku, laki-laki berkaos hitam dengan bulu mata lentik. Kamu tau? Betapa kagetnya aku ketika menerima sobekan kertas kecil berisi deretan angka saat itu, mereka menatapku dengan penuh tanda tanya. Setelahnya, ku pikir aku tidak akan pernah lagi bertemu denganmu. Tapi, aku lebih kaget lagi ketika tau, bahwa kita hidup di desa yang sama. Sore itu, aku menemani Isna yang mencoba motor barunya sambil berkeliling desa dengan misi menemukan someonenya Isna. Tapi yang kutemui di persimpangan jalan itu adalah kamu dengan kaos dan celana pendes serta yang paling mencolok, bulu mata lentikmu. Aku tau, komunikasi kita (haha, bolehkah ku sebut kita?) memang tidak begitu baik. Sampai ku temukan namamu di beranda Facebookku dengan ucapan ulang tahun yang hingga kini masih ku ingat, aku saja heran, heran kenapa bisa masih mengingat. Perlu kamu tau, sejak saat itu, namamu adalah favoritku bahkan setelah perang dunia satu, perang dunia dua dan perang dingin kita.
Kamu yang sekarang makin dewasa, makin kalem, makin sabar. Ah, makin favorit juga. Hehe. Yang aku tau dan aku rasa sekarang, kamu makin baik saja. Anehnya, aku tak pernah bosan dengan namamu dan tentangmu. Ah, ya, ku pikir waktu itu adalah kali pertama aku dikentuti oleh teman laki-laki. Kamu bahkan tidak merasa bersalah ataupun malu setelah melakukannya. Kamu tau? Aku sering merasa cemburu dengan perempuan-perempuan yang kerap dekat denganmu. Tapi makin bertambah umurku, aku sering sekali berucap pada diri sendiri; kalau aku juga ingin berjuang, berjuanglah dengan caraku sendiri tanpa perlu merasa iri, merasa cemburu, merasa takut kalah, dan lainnya. Kalaupun akhirnya aku tidak denganmu, pun setidaknya aku pernah sekali merasakan hal luar biasa dan tulus pada seseorang. Banyak yang aku sukai darimu, laki-laki yang kadang kupanggil "Bang..". Aku suka saat kita berpapasan depan sekolahku atau diperjalanan saat berangkat & pulang sekolah, kamu mengendarai vespa andalanmu. Yang paling aku suka adalah tatapanmu yang terlihat garang tapi menyejukkan, aku tidak membual, ini sungguhan. Kamu tau? Kawanku si Azki saja terheran, kenapa kita masih bisa seakrab ini saat dia dan mantannya seperti sudah tak saling mengenal.
Doaku, saat ku akhiri chattingan denganmu adalah; semoga kita bisa terus berteman baik. Meski kadang aku berharap bisa berhenti menjadikanmu selalu spesial dan biasa saja. Bolehkah kuucapkan bahwa, kamu adalah Alhamdulillah dan Bismillah-ku. Alhamdulillah, karena sudi telah menjadi teman dan abang yang baik selama ini. Dan, Bismillah aku yang harus ikhlaskan kapanpun itu.