Rindu dalam diam
Saya jelas merindukanmu. Tapi saya tak pernah keberatan.
Bisa bertemu setiap waktu adalah kemewahan. Kita ini kan sudah dewasa. Tak apalah kalau tidak selalu bersama. Hanya saja mungkin kamu tidak tau bagaimana selama ini diam-diam saya merindukanmu. Ijinkan kali ini saya bercerita tentang itu.
Rindu ini selalu mengerdil dalam hal-hal remeh. Mulai dari gestur menyendokkan makanan, sampai kebiasaanmu memberi arahan-di sana kamu dirindukan. Setiap kita berjauhan rasa rindu justru muncul dari hal-hal kecil yang sebelumnya tidak terbayangkan. Misalnya: melihat kawan sejawat mendekatkan sendok ke mulutnya, gambaran tentangmu muncul di depan mata. Sedikit tersenyum karena rindu, saya mengingat bagaimana khasmu setiap makan dan minum. Di tengah kemacetan yang kadang hampir membuat kesal, terbesit ingatan tentangmu yang mengatakan suka mendadak mengantuk ketika berkendara di jalanan.
Saat sedang rindu sekali kadang saya berharap bisa meminjam lenganmu dan membawanya ke sini. Saya rindu melihat matamu. Berbincang tak tentu arah bersamamu. Menjadi 2 makhluk yang paling sok tau. Ditemani segelas cappucino dan segelas teh tubruk yang menurutmu pergelasnya kemahalan mengingat harga teh sebenarnya sangat terjangkau. Saya sering rindu melihat matamu. Rindu celotehan-celotehan ngawurmu. Rindu gesturmu mengacak rambut.
Sun sayang dari yang lebih sering memilih rindu dalan diam,
Bisa bertemu setiap waktu adalah kemewahan. Kita ini kan sudah dewasa. Tak apalah kalau tidak selalu bersama. Hanya saja mungkin kamu tidak tau bagaimana selama ini diam-diam saya merindukanmu. Ijinkan kali ini saya bercerita tentang itu.
Rindu ini selalu mengerdil dalam hal-hal remeh. Mulai dari gestur menyendokkan makanan, sampai kebiasaanmu memberi arahan-di sana kamu dirindukan. Setiap kita berjauhan rasa rindu justru muncul dari hal-hal kecil yang sebelumnya tidak terbayangkan. Misalnya: melihat kawan sejawat mendekatkan sendok ke mulutnya, gambaran tentangmu muncul di depan mata. Sedikit tersenyum karena rindu, saya mengingat bagaimana khasmu setiap makan dan minum. Di tengah kemacetan yang kadang hampir membuat kesal, terbesit ingatan tentangmu yang mengatakan suka mendadak mengantuk ketika berkendara di jalanan.
Saat sedang rindu sekali kadang saya berharap bisa meminjam lenganmu dan membawanya ke sini. Saya rindu melihat matamu. Berbincang tak tentu arah bersamamu. Menjadi 2 makhluk yang paling sok tau. Ditemani segelas cappucino dan segelas teh tubruk yang menurutmu pergelasnya kemahalan mengingat harga teh sebenarnya sangat terjangkau. Saya sering rindu melihat matamu. Rindu celotehan-celotehan ngawurmu. Rindu gesturmu mengacak rambut.
Meski sedang tidak bersama. Jangan pernah merasa saya lupa. Bagi saya-lewat berbagai spektrum-kamu akan selalu ada. Yeah, sesekali memang saya harus membuka profil picturemu di media sosial agar bayangan tentang profil wajahmu selalu ada.
Sun sayang dari yang lebih sering memilih rindu dalan diam,
Saya