Terima kasih karena sudah pernah ada. Terima kasih untuk tetap tinggal disaat orang-orang lain memilih pergi. Urusan bagaimana hubungan ini nantinya akan berjalan-tanpamu-, kau tidak usah khawatir. Pun sebelum denganmu, aku sudah terbiasa sendiri. Setelah sekian lama kau sembunyikan aku selayaknya aku bukan siapa-siapa. Di telingaku, kau mengatakan aku yang yang utama. Kepada mereka, kau bilang kita-yang sedang diusahakan-ini segalanya. Lalu, mana yang harus aku percaya?
Aku tahu, kamu -masih-mencintai orang lain; iya, dia. Cinta masa sekolahmu. Pun yang juga dulu menggantikan posisiku kala itu. Aku sadar, mengabaikanmu adalah hal sulit yang aku lakukan. Dan itu adalah dua hal bodoh yang masih saja ku lakukan hingga sekarang. Atau mungkin, sudah saatnya aku berhenti melakukan hal bodoh yang sia-sia. Iya, harus!
Tidak. Aku tidak masalah jika kau memilihnya. Hanya saja, mengetahui kita pernah hampir bersama dan kamu pernah hampir memilihku, itu sungguh menyebalkan. Seakan kita berdua bertemu memang untuk dipisahkan. Kali ini benar-benar akan terpisahkan.
Aku tidak mengerti, mana yang lebih kau cari. Apakah aku yang ada di setiap kau pinta, ataukah dia yang di setiap rengeknya kau selalu ada? Tidak. Kau tidak perlu menjelaskan. Aku pun sudah tidak membutuhkan jawaban.
Aku, tidak masalah kau pergi. Yang lain juga begitu. Hanya saja, jika memang dari awal tak berniat untuk tinggal lama, mengapa membuatku merasa bahwa kau -pernah-mencintaiku juga?
Pergilah, tak apa. Tak usah enggan hanya karena takut menyakitiku, sudahlah. Tak usah berpikir seperti itu. Aku, akan tetap baik-baik saja, dengan atau tidak tanpamu. Toh hidup juga akan tetap berjalan meski tidak ada kamu di hidupku. Jangan justru seperti ini, menyiksaku perlahan-lahan. Membuatku berharap tentang apa yang sebenarnya tidak ada.
salam bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar