Aku baru saja selesai
bersih-bersih diri, karena masih merasa amat gerah, aku berjalan ke balkon
kosanku. Ternyata matahari sedang cantik-cantiknya sore ini, cahayanya silau
keorenan, mulai bersembunyi di ujung barat sana. Iseng, ku foto, ku upload
sebagai status di aplikasi chat. Kemudian aku masukan lagi ponselku ke kantong,
duduk menikmati angin sore ditemani senja bulan Mei. Muda-mudi berlalu lalang
mencari santapan untuk berbuka puasa. Hari ini adalah puasa ke, puasa ke berapa
ya? Hihi.
Berbicara tentang senja, tak
lengkap rasanya kalau belum memutar lagu “Monita Thalea – Memulai Kembali”,
lagu ini mengingatkanku pada banyak orang. Salah satunya, saat aku baru saja
beranjak dari status anak SMA menjadi anak kuliah. Haha, lucu sekali, aku
menyukai seseorang tiga tahun lamanya. Hingga orang yang aku sukai juga berada
di kota yang sama denganku. Sama-sama menempuh pendidikan disini. Satu semester
berlalu, aku masih saja menyukainya. Entahlah, di mataku, laki-laki yang
tampaknya sederhana mempunyai nilai lebih. Sesederhana tutur katanya,
penampilannya, sikapnya, tingkah lakunya, aku suka. Sangat suka. Hingga suatu
hari di bulan Februari, kami anak-anak alumni SMA yang di kota ini merencanakan
untuk main bareng dan berujung camping di pantai. Awalnya aku hanya asal ikut,
sampai motor bebek yang sangat aku kenali makin mendekat kearah tempat kami
berkumpul dan tepat berhenti di depanku. Kalau saja saat itu ada yang bisa
mendengar suara detak jantungku, mungkin aku sudah sangat malu karena detaknya
menjadi tak normal. Diantara banyak anak yang berkumpul saat itu, hanya ada
satu orang selain kami yang tahu bahwa aku suka dengannya. Dan dialah yang
menyuruh doi untuk memboncengkanku, meski malu-malu, dalam hati aku sangat
berterima kasih pada perempuan comel satu ini. Hari itu kami merencanakan untuk
berkunjung ke salah satu wisata favorit di Magelang. Ya, aku ini tipe orang
yang ketika sudah menyukai seseorang, kepada orang lain yang datang aku menutup
segalanya. Banyak sekali kejutan-kejutan kecil hari itu, kami berboncengan,
kami mengobrol sepanjang perjalanan, sampai dia mengomel karena aku enggan
bersembunyi dibalik jas hujan kelelawarnya, banyak sekali, hingga rasanya aku
mulai serakah pada waktu untuk memintanya berhenti sejenak. Tak hanya pada
perempuan comel itu. Aku juga berterima kasih pada Tuhan, mungkin inilah
hadiah-Nya untukku dari tiga tahun sabar menunggu. Mulai sejak saat itulah, aku
percaya, bahwa segala sesuatu yang ditunggu dengan sabar, akan menuai hasil
yang sepadan.
Seharian ini aku hanya berdiam
diri di kosan, tak masuk kantor, tak mengaktifkan ponsel. Hanya
bergulang-guling menonton drama Korea, membaca novelnya Fiersa Besari yang
belum aku tamatkan. Tahu-tahu sudah sore, hingga aku duduk di balkon saat ini.
Waktu berbuka tinggal hitungan menit. Tapi aku belum turun mengajak mbak kos
membeli santapan untuk berbuka. Pikirku, nanti sajalah sekalian pulang ngajar
Cindy.
Sebelumnya aku juga pernah
mengupload foto senja di aplikasi chat, beberapa menit setelah upload. Seorang
teman yang kutemui di kegiatan tahunan kampus membalasnya dengan sebuah foto
dengan tanda cinta dan caption “ciyeee”, yang ku lihat difoto itu adalah statusku
sama dengan seseorang. Tapi lucunya
adalah, statusku itu aku sembunyikan darinya. Ah si Mae ini memang hm sekali.
Setelah aku simpulkan baik-baik,
tipe laki-laki yang ku sukai ini rata-rata sama; sederhana, susah ditebak, dan
penuh kejutan.
Teruntuk kamu yang sedang membaca
tulisanku ini,
Percayalah; pada kesabaranmu, pada keikhlasanmu.Kelak semua waktu yang kamu korbankan untuk menunggunya melihatmu, akan datang.Sesuatu yang kamu sungguh bersungguh-sungguh, tak pernah berujung sia-sia.Ia lebih tau, mana yang tepat untuk menjadi sekedar tamu atau tuan pemilik rumah.Hanya saja, kamu memang harus memiliki hati seluas langit untuk tempat kesabaranmu pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar