Jumat, 24 Mei 2019

Senja sore ini


Aku baru saja selesai bersih-bersih diri, karena masih merasa amat gerah, aku berjalan ke balkon kosanku. Ternyata matahari sedang cantik-cantiknya sore ini, cahayanya silau keorenan, mulai bersembunyi di ujung barat sana. Iseng, ku foto, ku upload sebagai status di aplikasi chat. Kemudian aku masukan lagi ponselku ke kantong, duduk menikmati angin sore ditemani senja bulan Mei. Muda-mudi berlalu lalang mencari santapan untuk berbuka puasa. Hari ini adalah puasa ke, puasa ke berapa ya? Hihi.

Berbicara tentang senja, tak lengkap rasanya kalau belum memutar lagu “Monita Thalea – Memulai Kembali”, lagu ini mengingatkanku pada banyak orang. Salah satunya, saat aku baru saja beranjak dari status anak SMA menjadi anak kuliah. Haha, lucu sekali, aku menyukai seseorang tiga tahun lamanya. Hingga orang yang aku sukai juga berada di kota yang sama denganku. Sama-sama menempuh pendidikan disini. Satu semester berlalu, aku masih saja menyukainya. Entahlah, di mataku, laki-laki yang tampaknya sederhana mempunyai nilai lebih. Sesederhana tutur katanya, penampilannya, sikapnya, tingkah lakunya, aku suka. Sangat suka. Hingga suatu hari di bulan Februari, kami anak-anak alumni SMA yang di kota ini merencanakan untuk main bareng dan berujung camping di pantai. Awalnya aku hanya asal ikut, sampai motor bebek yang sangat aku kenali makin mendekat kearah tempat kami berkumpul dan tepat berhenti di depanku. Kalau saja saat itu ada yang bisa mendengar suara detak jantungku, mungkin aku sudah sangat malu karena detaknya menjadi tak normal. Diantara banyak anak yang berkumpul saat itu, hanya ada satu orang selain kami yang tahu bahwa aku suka dengannya. Dan dialah yang menyuruh doi untuk memboncengkanku, meski malu-malu, dalam hati aku sangat berterima kasih pada perempuan comel satu ini. Hari itu kami merencanakan untuk berkunjung ke salah satu wisata favorit di Magelang. Ya, aku ini tipe orang yang ketika sudah menyukai seseorang, kepada orang lain yang datang aku menutup segalanya. Banyak sekali kejutan-kejutan kecil hari itu, kami berboncengan, kami mengobrol sepanjang perjalanan, sampai dia mengomel karena aku enggan bersembunyi dibalik jas hujan kelelawarnya, banyak sekali, hingga rasanya aku mulai serakah pada waktu untuk memintanya berhenti sejenak. Tak hanya pada perempuan comel itu. Aku juga berterima kasih pada Tuhan, mungkin inilah hadiah-Nya untukku dari tiga tahun sabar menunggu. Mulai sejak saat itulah, aku percaya, bahwa segala sesuatu yang ditunggu dengan sabar, akan menuai hasil yang sepadan.

Seharian ini aku hanya berdiam diri di kosan, tak masuk kantor, tak mengaktifkan ponsel. Hanya bergulang-guling menonton drama Korea, membaca novelnya Fiersa Besari yang belum aku tamatkan. Tahu-tahu sudah sore, hingga aku duduk di balkon saat ini. Waktu berbuka tinggal hitungan menit. Tapi aku belum turun mengajak mbak kos membeli santapan untuk berbuka. Pikirku, nanti sajalah sekalian pulang ngajar Cindy.

Sebelumnya aku juga pernah mengupload foto senja di aplikasi chat, beberapa menit setelah upload. Seorang teman yang kutemui di kegiatan tahunan kampus membalasnya dengan sebuah foto dengan tanda cinta dan caption “ciyeee”, yang ku lihat difoto itu adalah statusku sama dengan seseorang. Tapi lucunya adalah, statusku itu aku sembunyikan darinya. Ah si Mae ini memang hm sekali.

Setelah aku simpulkan baik-baik, tipe laki-laki yang ku sukai ini rata-rata sama; sederhana, susah ditebak, dan penuh kejutan.

Teruntuk kamu yang sedang membaca tulisanku ini,
Percayalah; pada kesabaranmu, pada keikhlasanmu.
Kelak semua waktu yang kamu korbankan untuk menunggunya melihatmu, akan datang.
Sesuatu yang kamu sungguh bersungguh-sungguh, tak pernah berujung sia-sia.
Ia lebih tau, mana yang tepat untuk menjadi sekedar tamu atau tuan pemilik rumah.
Hanya saja, kamu memang harus memiliki hati seluas langit untuk tempat kesabaranmu pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Social