“kamu yang nantinya jadi masa depanku, maukah menerima dan memaafkan masa laluku? Seburuk apapun itu?”
Ini bukan sebuah pengakuan dosa
atau penyesalan. Aku menulis ini sebagai upaya mengais ketulusanmu agar kelak
tak perlu ada kekecewaan. Sadar dengan segala kekurangan, aku terlalu khawatir
jika kamu menyimpan masa laluku sebagai beban di pikiran. Padahal harapan kutak
jauh berbeda dengan kutipan di atas, aku ingin masa depanlah yang bertahta
disana dan perihal masa lalu cukup kau biarkan tuntas.
“kamu yang ku minta pada Tuhan menjadi masa depanku”
Sampai hari ini aku masih berusaha
tidak berhenti percaya bahwa kelak padamu hatiku kan berlabuh. Kelak kita bisa
berbaring tanpa mengatakan apa-apa tapi tetap merasa dipahami sebagai manusia. Denganmu,
kelak cinta tidak hanya saling mencintai sebagai dua orang dewasa tapi seperti
sepasang sahabat lama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar