Kamis, 05 November 2020

Misi Penyelamatan Hati

 Sebulan yang lalu, aku melakukan perjalanan ke Semarang, sendirian. Perjalanan tanpa tujuan ini bukan sekadar perjalanan, ada misi di dalamnya. Iya, misi penyelamatan hati. 

Sepagi ini sudah ingin meminta maaf kepada Bapak Gojek yang ku buru-burui untuk cepat sampai ke lokasiku.

 

“Pak, sesuai titik ya, tapi maaf, agak cepet nggih, takut ketinggalan kereta.”

 

Aku yakin, Bapak Gojek akan merutuki pelanggannya ini, karena sudah order Go-ride mepet, minta buru-buru pula.

 

Tepat pukul 06.29 aku sampai di stasiun dan sudah boarding. Aku memutuskan untuk masuk melalui gerbong tiga untuk sampai ke gerbongku. Sepi. Mungkin karena efek pandemi, mungkin juga efek masih pagi. Tetapi, tidak seperti yang di gembar-gemborkan harus berjaga jarak dalam kereta. Karena nyatanya masih ada yang duduk berdampingan atau berhadap-hadapan. Memasuki gerbongku, ku lihat gerbongku sepi, hanya beberapa penumpang saja. Mensyukuri dalam hati karena bangku yang kududuki juga hanya aku saja. Leluasa, bisa duduk dekat jendela sembari menggalau hihi, pikirku.

 

Sesaat kereta mulai melaju, ku pasangkan earphone ke telinga dan ku putar beberapa lagu yang akhir-akhir ini sering ku dengar untuk menemani perjalanan-tanpa tujuan-ku.

 

Hanyut dalam alunan lagu, handphoneku bergetar tanda pesan masuk

 

“Jadi? Pelaksanaan misinya?”

“Jadi dong, nih-ku kirim gambar suasana dalam gerbong-“

“Sama siapa jadinya?

“Sendirian.”

“Ya sudah, hati-hati. Kalau mau ditemani, berkabar saja, hari ini aku luang, ya ini kode kalau aku ingin terlibat dalam misimu, haha”

“Hm, nanti ku kabari kalau sudah sampai Stasiun Poncol”

“Sudah makan?”

 

Aku memilih menghiraukan pesannya. Aku ingin menikmati perjalanan ini, selagi gerbong masih sepi. Enak, nyaman, tenang untuk meratapi nasibku.

 

Dalam perjalanan kali ini, mendadak saja, aku terpikirkan soal hubungan jarak jauh (LDR). Kebayang, harus sungguh-sungguh bisa membagi waktu, tenaga, juga uang kalau-kalau ingin bertemu pasangan. Mungkin itu juga yang menjadi pertimbangan bagi beberapa orang yang memilih untuk tidak menjalin hubungan jarak jauh.

 

Hubungan jarak jauh itu Cuma bagi yang mampu. Mampu fisik, batin maupun finansial. Itu slogan yang selalu aku selipkan pada orang-orang yang suka bercerita tentang hubungan jarak jauh. Aku terdiam. Menanyakan balik pada diriku sendiri, seandainya aku yang terjebak disana-hubungan jarak jauh- aku mampu atau tidak.

 

Mengetuk-ketukan jari pada jendela sembari hanyut dalam alunan lagu. Terbesitlah satu nama, satu nama yang juga berbeda kota denganku. Bukan, bukan yang tadi menanyakan. Tapi, orang lain. Suatu kali aku membaca komentar di postingannya yang mengatakan bahwa jarak antara A ke B itu dekat, kemudian di-iya-kan oleh si pemilik postingan. Sejujurnya ada rasa ngilu, tapi membayangkan betapa akan rumitnya hubungan jarak jauh, aku pun meng-iya-kan hubungannya dengan perempuan yang sekarang.

 

Lagi pula-meski tidak bisa disamaratakan-, siapa pula di jaman sekarang yang sanggup menjalani hubungan jarak jauh. Harus berbagi kabar, untuk menghindari kesalah pahaman. Harus berbagi tenaga, jikalau sudah lelah bekerja seharian atau lelah dengan kondisi di rumah tetapi sang pasangan ngambek minta di telpon atau sekadar bercerita via chating. Harus berbagi uang dengan kebutuhan sendiri, kalau-kalau pasangan ingin dikunjungi atau meminta bertemu. Belum lagi hal-hal lain di belakangnya. Tanpa sadar, aku menghela napas berat dan panjang.

 

“Al, sudah sampai mana?”

“Batang”

“Sudah makan? Kalau belum, mau makan apa?”

“Yang pedas-pedas saja, tiba-tiba ingin makanan pedas”

“Oke, Al. Jam 09.00 aku on the way stasiun”

“Ya”

 

Sejujurnya, yang berat dari hubungan jarak jauh itu apa sih?

 

Rindu? Jarak? Atau fisik?

 

Sampai-sampai beberapa orang yang hubungannya berakhir selalu dengan perselingkuhan, cemburu dengan kesibukkan. Lantas, kalau memang merasa tidak mampu untuk berada jauh-jauh dari pasangan atau tidak bisa mentolerir kesibukkan pasangannya, mengapa di pertahankan sampai sejauh itu? Mengapa memaksa bertahan padahal tidak bisa? Jadi, kan, setidaknya bisa mengurangi akibatnya. Kalau sudah di titik, di selingkuhi dengan alasan “kamu tidak ada saat aku butuh kamu” atau “aku maunya yang wujudnya ada, nyata. Bukan jejeran huruf dalam layar 5:3 atau 9:16”, lantas bagaimana orang yang di tinggalkan? Bisa saja, ia menjadi trauma percaya pada orang lain karena di khianati kepercayaan dan penantiannya. Lalu kalau berakhir karena pasangan cemburu dengan kesibukkan pasangannya, apa iya? Nantinya orang tersebut jadi enggan meluangkan waktu untuk orang lain, kan bisa saja.

 

Ah! Hubungan jarak jauh ini, membuatku pusing.

 

Menurutku, hubungan yang dewasa itu TIDAK ADA. Mengapa? Karena hubungan yang dewasa itu hubungan antar dua orang yang sudah sama-sama siap. Siap mau kemana, mau bagaimana, step by stepnya jelas dan tertata.

 

Tapi kan orang berpacaran juga untuk mengetahui karakter pasangannya agar ketika menikah ternyata tidak salah pilih?

Lalu, kalau ternyata semasa berpacaran tidak cocok? Mau di tinggalkan? Lalu mencari lagi?

Dengan alasan, “kamu ternyata egois” atau “kamu suka mengatur-atur hidupku, padahal baru pacaran”. Ya, mudah saja. Tidak usah berpacaran. Kalau memang sungguh-sungguh ingin sungguhan, kenali saja lewat orang tuanya. Tanyakan segala hal yang ingin kamu ketahui tentang anaknya. Berpacaran-ditinggalkan, kadang se-sepele itu, tapi juga meninggalkan trauma juga kenangan buruk tersendiri bagi beberapa orang. 

 

Mungkin itu juga alasan mengapa, orang tua selalu meminta anaknya untuk fokus belajar, fokus bekerja, nanti kalau sudah sukses siapa yang tidak mau denganmu.

 

Complicated sekali perjalanan kali ini. Beradu pikir dengan diri sendiri.

 

“Aku sudah sampai. Kamu dimana-kirim-?”

 

Al...teriaknya sambil melambaikan tangan ke arahku.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Social