Senin, 13 Agustus 2018

Muara.

Kamu adalah puisi yang tersirat.

Puisi tentang matahari terbit dan tenggelam,
tentang pagiku membuka mata dan menutupnya kembali,
tentang warna kelabu di sebuah sabana, yang kusebut penantian.

Puisi tentang musim yang cerah,
tentang bintang jatuh, yang sering kusebut harapan.

Puisi tentang batu karang,
tentang deburan ombak yang memecahkannya,
tentang samudra, sebuah tempat dimana doa-doaku ingin bermuara.

Puisi tentang kabut kelabu,
tentang dahaga kemarau hati,
sirna oleh kehadiranmu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Social