The tubruk
Oleh: sri rosalina hartinah
Arini adalah mahasiswa dari Jakarta yang merantau di Jogja. Arini sendiri tidak mempunyai alasan khusus saat memilih Jogja untuk melanjutkan pendidikannya. Hanya kebetulan saja Arini di terima di salah satu universitas negeri di Jogja. Di universitas tersebut Arini mengabil jurusan sosial, karena basicnya Arini memang anak ips ketika sma. Bisa dibilang, Arini adalah maniak universitas semarang. Alasan Arini memilih semarang -pada waktu itu- adalah karena ibunya merupakan alumni lulusan salah satu universitas di semarang, mungkin karena sering mendengar cerita dari ibunya tentang semarang, Arini berusaha mengikuti jejak ibunya untuk juga melanjutkan Pendidikan di semarang.
2017, tahun ini Arini memasuki semester 6. Ketika pikirnya semester 6 ini akan banyak waktu luang agar ia bisa menyambangi wisata-wisata yang disungguhkan Jogja, nyatanya… mata kuliah semakin berat karena rata-rata mata kuliah tersebut adalah praktik. Dan ada juga salah satu mata kuliah yang benar-benar memakan waktu berbulan-bulan untuk mencapai tugas akhirnya, yaitu seminar. Arini di percaya teman kelasnya untuk mengisi tari pembuka, Arini memang bisa menari karena semasa SD sering dijadikan perwakilan sekolah untuk mengikuti acara tari, Arini juga sempat mengikuti kursus tari sewaktu kecil. Jadi, lumayanlah, inshaa allah ngga kaku-kaku amat, pikirnya. Waktu terus berlalu…sampai akhirnya hari H seminar tiba, giliran Arini dan keempat temannya tampil. Event seminar ini juga sekaligus mata kuliah terakhir yang merupakan bisa satu kelas bareng-bareng, karena setelah mata kuliah ini, sudah tidak ada lagi mata kuliah yang bareng-bareng lagi, di tambah nanti akan ada mata kuliah KKN dan praktik mengajar.
Memasuki perempat 2017, semua mahasiswa disibukkan dengan pendaftaran KKN. Waw, apa sih yang ada dibenakmu atau apa sih yang pertama kali terpikirkan olehmu ketika mendengar kata KKN?
Arini pernah mendengar cerita mbak kostnya tentang diputusin pacarnya pas KKN (wih, ngeri juga yah, batin Arini). Dimana mbak kostnya nangis banjir sepulang KKN gara-gara diputusin pacarnya pas KKN, mulai dari situlah ia mendengar kengerian -yang sebenarnya lumarah- tentang KKN, kamu harus siap diputusin pacar kamu demi cinta lokasinya yang Cuma sebulan, harus siap ditinggal gebetan juga gara-gara doi nemu gebetan baru di lokasi KKN, banyaklah.
“untung aku jomblo ya mbak, hehe” ujarnya setelah mendengar cerita Panjang lebar dari mbak kostnya
“lah elukan ada dia rin” timpal mbak kostnya
Namun hanya dibalas tawaan miris oleh Arini.
Ya memang, sudah beberapa semester ini Arini sedang berusaha move on dari mantan teman dekatnya. Itulah kenapa ketika mendengar kata KKN ada motivasi tersendiri dalam benak Arini yaitu “waktunya cari gebetan baru, wkwk” semangatnya seraya menekan tombol daftar pada kolom pendaftaran KKN.
Selang beberapa bulan, pengumuman pembagian kelompok KKN. Satu kelompoknya terdiri dari sepuluh orang, tiga laki-laki dan tujuh perempuan, namun dari semuanya berbeda-beda jurusan, hanya beberapa yang masih satu fakultas. Melihat nama-nama yang tercantum, Arini tersenyum seraya berucap
“harus jadi pemberani, jangan takut berpendapat, jangan jadi pemalu tapi tetep jadi diri sendiri. Semangat! Kira-kira satu kelompok gue ada yang jomblo ngga yah, hehe” ucap Arini sambil tersenyum-senyum.
Arini lupa kapan tepatnya diadakan meet up dengan teman kelompoknya. Di salah satu gor yang dimiliki universitas tersebut. Arini memang bukan orang yang pandai membaca karakter orang lain, tapi kurang lebih Arini sedikit mengerti karakter teman-teman kelompoknya yang akan menjadi satu atap selama sebulan.
Memasuki bulan agustus 2017, aroma-aroma cinta lokasi KKN tercium di seluruh penjuru fakultas. KKN sendiri menjadi ladang semangat bagi jomblo seperti Arini, pun menjadi ladangnya ke khawatiran bagi perempuan-perempuan maupun laki-laki diseluruh penjuru fakultas yang akan ditinggal -sementara- oleh pacarnya. Seperti yang sering kita dengar, KKN khas dengan cinta lokasinya, wkwk. Nah, lokasi Arini KKN bertempat di dataran tinggi di salah satu kota di provinsi jawa tengah, masih cukup dekat dari Jogja.
Pasti kamu bertanya-tanya “lalu apa hubunganya cerita ini sama judulnya yang “teh tubruk?”, nah.. dari sini awal cerita itu dimulai…
Hampir satu minggu satu atap, ternyata teman kelompoknya tidak ada yang jomblo, entah itu laki-laki atau perempuan di kelompok Arini. Hanya Arini, Melysa yang sungguh-sungguh menyandang gelar jomblo, wkwk (pinjem namamu ya Melysa hehe).
Awal KKN, ada yang udah sibuk ngitung H- xx pulang. Program demi program berjalan, program kelompok, program individu. Tak terasa juga, semakin akrab dengan penduduk lokasi KKN. Karena pelaksanaan KKN Arini bertepatan bulan agustus, semua anak KKN yang di tempatkan di lokasi tersebut, ikut disibukkan untuk membantu jalannya agustus-an di lokasi tersebut. Saling bertemu dan berkenalan dengan anak kelompok lain (lumayan nambah referensi calon gebetan- kata Arini). Meriah sekali. Yang unik dari perayaan agustusan di lokasi tersebut adalah, kalau biasanya di agustus-an ada pawai karnaval yang umumnya dilaksanakan siang hari, berbeda di lokasi ini. Jadi, pawai karnaval diikuti oleh seluruh warga desa yang terdiri dari empat dusun. Pelaksanaanya pun dimulai dari jam tujuh pagi, pawai bermulai dari dusun awal (dusun paling ujung dari balai desa), kemudian berjalan iring-iringan menuju balai desa, sampai balai desa jam delapan-nan kemudian dilanjut dengan upacara pengibaran bendera merah-putih yang berlangsung hidmat, lalu tepat pukul 09.45 (kalau ngga salah), sirine dibunyikan layaknya proklamasi jaman soekarno jaman dahulu. Arini sampai tercengang melihat prosesi pelaksanaan upacara 17 agustus di lokasi ini.
Tak terasa sudah H-seminggu penarikan KKN, jujur Arini dan teman-teman kelompok yang awal mulanya tidak sabaran untuk segera pulang, malah merasa berat untuk pulang. Karena merasa sudah menyatu dengan warga penduduk lokasi KKN.
Dari H-seminggu penarikan inilah, asal muasal “teh tubruk” tercipta. Di H-seminggu ini Arini dikenalkan dengan Ridho, oleh salah satu teman kelompoknya. Sebenarnya ini bukan kali kedua Arini bertemu dengan Ridho, sebelumnya Arini pernah bertemu Ridho berkat “insiden belanjaan jatuh” ketika Arini Wawan mengantarkan belanjaan jatuh tersebut ke poskonya Ridho. Di pertemuan kedua, Wawan menyuruh Arini dan Ridho berkenalan. Selanjutnya Arini dan Ridho kembali bertemu di puncak acara program individu salah satu teman kelompok Arini, selain itu Wawan juga meminta Arini dan Ridho berfoto Bersama setelah acara. Selesai dari acara tersebut, Arini dan Ridho mulai berteman. Pertemanan itu juga berlanjut setelah penarikan KKN. Arini dan Ridho juga beberapa kali mengerjakan tugas bersama. Ketika sedang mengerjakan tugas di sebuah kedai kopi, Ridho memesan teh tubruk, Ridho berucap
“ketika teh tubruk masuk kedai dan harganya berubah jadi mahal, padahal harga asli teh berapa, tinggal nambahin air panas sama gula sedikit, bikin sendiri juga bisa ini mah, wah, brarti penjualnya dapet untung banyak yah dari teh tubruk doang, hehehe” ucapnya seraya mengaduk-aduk teh tubruk dan menyeruputnya.
Arini hanya tersenyum mendengar ucapan Ridho, bagi Arini ini adalah moment membahagiakan mendengar Ridho berbicara tentang kejujurannya meski hanya tentang teh tubruk. Bahkan setelah moment itu berlalu, masih terngiang-ngiang di benak Arini; saat bagaimana gestur Ridho berbicara, bagaimana gestur Ridho menyeruput teh tubruknya, bagaimana gestur Ridho saat menjadi pendengar Arini bercerita, bagaimana gestur Ridho tertawa. Arini rindu Ridhonya, Ridhonya saat itu, saat duduk berhadapan dengannya menyeruput the tubruk dan segelas capucino favorit Arini.
Sekian.
Nb:
Mohon maaf apa bila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan alur cerita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar